Momentum untuk beralih ke 2D Barcode dalam pemindaian di titik penjualan (point of sale) terus meningkat. Seiring para peritel melihat peluang untuk mengurangi limbah dan meningkatkan traceability, kesiapan dalam mengadopsi teknologi “2D” dapat memberikan keunggulan kompetitif bagi brand. Kemasan pun dapat dibuat lebih ringkas dan tidak terlalu padat informasi, sementara brand juga dapat memanfaatkan QR code untuk meningkatkan keterlibatan pelanggan melalui tautan ke media sosial maupun informasi produk.
Namun, peralihan dari 1D code ke 2D code menghadirkan sejumlah pertimbangan penting. Mulai dari ukuran sel dan konten data, hingga ruang pada kemasan serta bentuk produk—berbagai faktor ini dapat memengaruhi kualitas kode dan pada akhirnya menentukan keberhasilan proses pemindaian.
Dalam blog ini, kami membahas faktor-faktor tersebut serta menjelaskan implikasinya terhadap lini produksi yang sudah ada.
Pengalaman Pemindaian
Perkembangan dari kode 1D ke 2D merupakan sebuah lompatan besar. Bagi produsen, adopsi kode 2D membuka peluang untuk selangkah lebih maju dari kompetitor sekaligus berpotensi menciptakan hubungan bisnis baru. Penambahan data yang lebih lengkap ke dalam kode tidak hanya membantu menghemat ruang pada kemasan, tetapi juga meningkatkan traceability serta keterlibatan pelanggan.
Semakin rinci informasi produk yang tersedia, semakin besar pula manfaat yang dapat diperoleh. Namun, pengalaman pemindaian yang konsisten menjadi faktor krusial. Baik bagi pelanggan di titik penjualan (point of sale), pengguna yang memindai melalui ponsel untuk mengakses media sosial, maupun pekerja di seluruh rantai pasok, proses pemindaian harus berlangsung cepat dan andal. Oleh karena itu, terdapat beberapa aspek penting yang kini perlu diperhatikan.
Ukuran Barcode
Perbedaan kepentingan antara preferensi brand yang menginginkan ukuran barcode “sekecil mungkin” demi menjaga estetika kemasan dan tuntutan supermarket akan barcode yang lebih besar agar mudah terlihat serta cepat dipindai bukanlah hal baru. Peralihan ke QR code menghadirkan pertimbangan tambahan. Tujuannya bukan hanya mencapai waktu pemindaian di bawah 50 milidetik, tetapi juga menghadirkan pengalaman pelanggan yang konsisten.
Namun, berdasarkan uji coba pilot terbaru Domino, berbagai ukuran QR code mengharuskan pelanggan untuk bergerak lebih dekat atau lebih jauh dari pemindai agar kode dapat terbaca. Hal ini tidak hanya menghambat target pemindaian cepat, tetapi juga menciptakan friksi yang tidak diinginkan dalam pengalaman pelanggan. Domino terus berkolaborasi dengan para pelaku industri untuk mendorong kesepakatan mengenai ukuran barcode yang paling optimal guna menghadirkan pengalaman pemindaian yang konsisten.
Selama proyek percontohan ini, kami juga menemukan bahwa kinerja standar ISO untuk barcode turut berubah dalam model 2D. ISO/IEC 15415 menyediakan panduan khusus untuk verifikasi dan kualitas barcode 2D guna memastikan keterbacaan dan mutu. Dengan penilaian dari A hingga F—di mana A merupakan kualitas tertinggi—target di masa lalu adalah mencapai standar Grade A.
Namun, pengujian menunjukkan bahwa barcode 2D berperilaku berbeda; kode dengan Grade C justru dapat dipindai lebih cepat dibandingkan dengan yang berperingkat Grade A. Oleh karena itu, prioritas kini bergeser dari sekadar mencapai Grade A menjadi memastikan kecepatan serta konsistensi di sepanjang pengalaman pemindaian.
Data Konten
Salah satu keunggulan utama QR code adalah kemampuannya untuk memuat beragam elemen data, mulai dari tanggal kedaluwarsa dan nomor batch hingga tautan ke media sosial. Namun, manfaat ini menuntut tingkat ketelitian dan kontrol data yang lebih tinggi. Kesalahan pada elemen data dapat menyebabkan produk gagal dipindai—dengan konsekuensi yang berdampak pada profitabilitas serta hubungan dengan peritel dan konsumen akhir.
Standar QR code terbaru dari GS1 menawarkan fleksibilitas tinggi, memungkinkan brand untuk merancang dan menggunakan kode sesuai kebutuhan masing-masing. Meski terdapat panduan khusus terkait penambahan konten data, kesalahan sintaks masih sering terjadi. Sebagai contoh, GS1 mensyaratkan format tanggal kedaluwarsa yy.mm.dd, sementara brand di Eropa umumnya menggunakan format dd.mm.yy.
Penyematan tanggal kedaluwarsa dalam kode 2D merupakan komponen penting dalam memenuhi tuntutan supermarket sekaligus mendukung upaya pengurangan limbah. Oleh karena itu, brand perlu memastikan adanya disiplin dan tata kelola data yang kuat agar sintaks yang digunakan di seluruh aliran data tetap akurat dan terhindar dari kegagalan pemindaian.
Ruang dan Bentuk Kemasan
Inovasi dalam pengemasan serta penciptaan desain yang unik telah menjadi komponen penting dalam membangun nilai dan diferensiasi brand. Hal ini dimungkinkan oleh fleksibilitas model pencetakan tradisional, di mana kode 1D dengan data tetap dapat dicetak terlebih dahulu, sementara informasi yang dapat dibaca manusia—seperti tanggal Best Before—dapat dicetak secara inline menggunakan print head yang ditempatkan hingga 15 mm dari permukaan kemasan, bahkan pada permukaan melengkung, cekungan, maupun lipatan.
Namun, kode 2D memiliki tuntutan yang lebih tinggi. QR code hanya dapat dicetak pada permukaan datar, dan print head harus berada sangat dekat dengan kemasan saat proses pencetakan. Selain harus berada dalam jarak sekitar 1 mm dari print head, faktor lingkungan juga memengaruhi kualitas cetak. Proses harus dilakukan pada suhu yang tepat, dan produk harus bebas dari kondensasi. Untuk menghasilkan QR code beresolusi tinggi dengan kualitas optimal, desain kemasan yang unik mungkin perlu disesuaikan. Bahkan, teknologi dan proses pencetakan secara keseluruhan bisa saja harus diperbarui.
Mengingat waktu, biaya, dan kompleksitas yang terkait dengan perubahan ruang kemasan dan desain produk, sangat penting bagi brand untuk segera dan secara akurat mengevaluasi proses yang ada serta mengidentifikasi area yang berpotensi memerlukan redesign. Selain itu, QR code menuntut tingkat jaminan kualitas yang lebih tinggi. Potensi kerugian akibat satu batch yang gagal dipindai dapat sangat besar—termasuk risiko penalti dari supermarket. Oleh karena itu, perusahaan perlu mempertimbangkan nilai dari verifikasi inline berkelanjutan sebagai pengganti pemeriksaan manual bertahap.
Kesimpulan
Supermarket mulai menetapkan timeline khusus bagi pemasok untuk mengadopsi kode 2D. Seiring meningkatnya tekanan untuk bertransformasi, mengambil jalan pintas dalam salah satu aspek implementasi dapat menimbulkan masalah jangka panjang. Oleh karena itu, penting untuk mempertimbangkan pertanyaan mendasar: pekerjaan tambahan apa yang dibutuhkan untuk implementasi, dan apa sebenarnya tujuan yang ingin dicapai oleh brand?
Untuk meminimalkan gangguan pada lini produksi, penting untuk mempertimbangkan seluruh elemen data tambahan yang dapat disematkan dalam QR code. Ini merupakan peluang untuk meningkatkan keterlibatan konsumen, memenuhi target keberlanjutan, serta memperkuat traceability. Namun, membangun kapabilitas ini sejak awal—alih-alih mencoba mengubah sistem di kemudian hari—akan jauh lebih efektif. Proses ini juga melibatkan berbagai fungsi dalam organisasi, mulai dari engineering, IT, produksi, dan quality hingga tim packaging, logistik, legal, dan marketing.
Transisi menuju kode 2D memang menghadirkan peluang besar, tetapi juga disertai kompleksitas. Dibutuhkan perencanaan yang matang, kolaborasi lintas fungsi, serta dukungan dari mitra yang tepat untuk memastikan proses transisi berjalan sukses.